Sabtu, 29 Juni 2013

PERJUANGAN SI KAKI TAK SEMPURNA



Di jembatan penyebrangan Setia Budi Jakarta Selatan, kulihat orang seusia setengah abad sedang tertatih-tatih berjalan. Sesekali berhenti kemudin ia melanjutkan lagi. Kaki kirinya ia seret dalam berjalan. Kaki kanannya menopang kaki kirinya. Ia terus menaiki tangga penyeberangan.
Muncul gerobak bubur mengikutinya dari belakang. Gerobak berat meliuk-liuk didorong oleh dua orang. Mereka hampir menabrak orang tua itu. Ku ingin menolongnya. Tapi, orang itu hanya tersenyum. Satu demi satu orang melewatinya, termasuk gerobak bubur. Tiba giliranku. Ku ingin sekali menolongnya. Tapi ia hanya tersenyum. Ku menyapanya. Ia membalasnya. “Permisi pak!”  “Silakan!” jawabnya.
Di halte ku menunggu bus yang belum datang. Aku duduk. Ku lihat bapak tadi yang tertatih-tatih akhirnya sampai juga ke halte. Ku persilahkan duduk. Tapi, ia menolaknya. Beberapa kali aku membujuknya tetap ia tak mau.
Bus datang tapi cukup penuh. Sebagian penumpang naik. Tetapi bapak itu tidak naik. Tiba giliran bus berikutnya, kami naik. Kami bertemu di bus. Ternyata duduk satu deret. Saya berkenalan. Pak Rudi, namanya. Kakinya ternyata tak sempurna. tapi semangat kerjanya luar biasa.
Ia bekerja sebagai inputer, orang yang kerjanya menginput data ke computer. Satu minggu  ia bisa mengerjakan 20-30 halaman. Satu halaman dihargai Rp20.000. Jadi satu minggu ia menerima 400.000-600.000. sebulan Rp.1600.000-Rp2.400.000.
Ia tidak meminta anak-anaknya. Ia mandiri. Kalau bisa ia memberi kepada anak dan cucunya. Luar biasa. Meski ia tak sempurna, tetapi mengalahkan orang yang tubuhnya sempurna.